Wahai Para Kesatria, pewaris tanah pusaka
Mengapa dikau gundah gulana
Bukankah terbentang luas taman indah nan
warna-warni
Tidakkah kau cium harum semerbak bunga
bertebaran di kanan kirimu
Atau kurang cukupkah samudera permata nan
elok lagi bersinar menghiasimu
Wahai pemuda pewaris masa depan
Tataplah jauh ke muka
Ada beban luhur yang harus segera engkau
pikul
Akan masih banyak tugas menanti untuk
engkau ambil alih
Di mana tak akan mampu engkau memikulnya
seorang diri
Engkau butuh penghibur yang akan senantiasa
menguatkan hatimu ketika
dirundung kesenduan
Engkau butuh pendukung yang membuatmu betah
berjalan tegak di setiap tugas
risalah yang kau tanggung
Wahai temanku yang masih sendiri,
Segeralah temukan teman hidupmu
penyejuk jiwamu kelak
Carilah dia karena sesungguhnya dia itu
telah dekat.
Lebarkan matamu, dan buka mata hatimu
Tajamkan pendengaran, dan simak suara
kalbumu
Barangkali sang dia telah berada dekatmu
Hanya engkau mempunyai angan yang terlalu
tinggi
Mungkin dia berada persis di hadapanmu
Namun engau tidak mau menerima dia apa
adanya
Duhai shobatku yang kesepian
Janganlah engkau sia-siakan perhiasan
terindah di dunia itu
Kalau dia belum belum berkilau, tugasmulah
tuk mengkilapkannya.
Andai dia belum terlihat elok, tanggung
jawabmulah untuk menghiasi dirinya
dengan perhiasan ahlak yang mulia
Jika dia belum bersinar terang, ladang
amalmu-lah untuk menyempurnakan
cahayanya yang masih tersingkap
Lalu apakah lagi yang engkau tunggu...
wahai manusia yang telah diciptakan
Rabb-nya secara sempurna..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar